Langsung ke isi

PANJAITAN DAN SINAMBELA

17 September 2011

Jika mau melihat hubungan parpadanan (perjanjian) antara Panjaitan & Sinambela maka ada 3 hal yg harus kita ketahui lebih dahulu:

  • Marga Panjaitan, dalam hal ini adalah anak dari Raja Panjaitan yaitu Raja Situngo, dan Anak dari Raja Situngo itu sendiri yaitu Raja SiJorat Paraliman (yg sampai saat ini sementara tarombonya masih controversial bagi “sebahagian” Marga Panjaitan)
  • Marga Sinambela, dalam hal ini Raja Bonanionan Sinambela, yaitu putra ke tiga sekaligus si bungsu dari Raja Sinambela. Raja Bonanionan menikah dengan boru Pasaribu. Lahirlah Raja Si Singamangaraja I bergelar Raja Manghuntal
  • Si Raja Uti,  cucu si Raja Batak yg merupakan anak sulung dari Guru Tatea Bulan.

Pada prinsipnya Panjaitan tidak pernah merasa marpadan dengan Sinambela tetapi Panjaitan menyatakan bahwa Sinambela itu memang Anggi Doli dari Panjaitan 1 ibu (boru Pasaribu) lain bapak. Pihak Sinambela yg sering menyatakan marpadan. Bagi Panjaitan marpadan itu merupakan ikatan yg terjadi karena adanya sebuah perjanjian, itu sebabnya Panjaitan tdk pernah menyatakan marpadan melainkan memang mengganggap Sinambela itu sebagai adiknya jadi tidak perlu adanya sebuah perjanjian (hubungannya lebih dekat). Itu yang saya ketahui, kalau salah mohon dikoreksi karena orangtua saya dari dulu selalu mengatakan Sinambela itu adik dari Panjaitan.

Ada 2 versi yang menyatakan Panjaitan marpadan dengan Sinambela, baik itu cerita dari Pihak Panjaitan maupun pihak Sinambela.

Versi pertama, menyatakan bahwa Panjaitan & Sinambela adalah Kakak beradik 1 ibu lain bapak.

Versi kedua, versi kuda putih Sisingamangaraja, parpadanan terjadi karena Panjaitan berhasil menangkap kuda putih Sisingamangaraja.

Tapi menurut yang saya tau & berdasarkan hasil survey yg saya lakukan baik dari Pihak Panjaitan maupun Sinambela, dapat saya simpulkan bahwa kedua hal tersebut di atasa benar adanya, tapi merupakan 2 hal yang berbeda.

Baiklah sekarang kita simak rangkuman dari kedua versi tsb menjadi suatu rangkaian certita yang berkaitan & berhubungan.

Oke sekarang kita mulai cerita ini dari sekilas Kisah tentang ”Si Raja Uti” .

Si Raja Uti.

Menurut cerita yg banyak ditulis, asal mula leluhur orang Batak adalah dari Pusuk Buhit, Sekitar abad XII Siraja Batak singgah di wilayah Toba Samosir. Siraja Batak memiliki anak yang bernama Guru Tatea Bulan (Iontungan) dan Raja Isumbaon (Sumba). Guru Tatea Bulan mempunyai lima orang anak, yakni:

  • Raja Uti
  • Saribu Raja
  • Limbong Mulana
  • Sagala Raja
  • Malau Raja.

Menurut legenda dan keyakinan suku Batak, Raja Uti (anak Sulung dari Guru Tatea Bulan) adalah yang memiliki kesaktian dibanding saudara2nya. Ia terlahir sebagai manusia yang cacat tidak memiliki kaki & tangan sehingga ia tdk bisa duduk. Ia juga terlahir kembar dengan saudara perempuannya Si Boru pareme. Karena kesaktiannya & kondisi fisiknya sehingga banyaklah gelar yg melekat pada dirinya. Misalnya Raja Biak-biak, Raja Gumelenggeleng. Raja Nasiak Bagi, Raja Miok-miok, Raja Hatorusan. Konon katanya ia mempunyai sayap, Raja Uti sendiri artinya raja yang takkan pernah mati, raja yang takkan pernah tua. Sebagai Anak sulung ia meminta ijin kepada ibunya untuk pergi ke Pusuk Buhit demi memohon kepada Mula Jadi Nabolon agar boleh dia dijadikan raja diantara saudara-saudaranya. tapi ia dianggap remeh oleh saudara-saudaraku krn cacatnya. Singkat cerita Mulajadi Nabolon mengabulkan permintaannya & iapun berubah menjadi manusia yang sempurna yang memiliki kaki dan tangan bertumbuh normal. Dan iapun memperoleh kesaktiannya & akhirnya menjadi seorang pertapa yg sakti.

Cerita si Raja Uti penting kita ketahui karena ia adalah Tulang (paman) dari Sisingamangaraja I (sinambela) & Raja Sijorat Paraliman (Panjaitan). Kemudian kita masuk ke penjelasan kedua tentang Sinambela.

 

Raja Sinambela

Raja Sinambela mempunyai 3 orang anak yaitu:

  • Raja Pareme Sinambela
  • Tuan Nabolas Sinambela
  • Raja Bonanionan Sinambela

Anak ke 3 nya yaitu Raja Bonanionan Sinambela, menikah dengan boru Pasaribu. Dari hasil perkawinannya lahirlah Sisingamaraja I yang sangat istimewa & mempunyai kelebihan luar biasa. Pada saat lahir giginya sudah tumbuh & di lidahnya tumbuh bulu (berbulu). Sesuai dengan amanat yang diterimanya dari Op. MulaJadi Nabolon anak itu diberi nama Sisingamangaraja & setelah dewasa iapun mengambil tanda-tanda kerajaan dari Raja Uti, berupa: Piso gaja Dompak, Pungga Haomasan, Lage Haomasan, Hujur Siringis, Podang Halasan, Tabu-tabu Sitarapullang.

Raja Panjaitan

PANJAITAN (Toga Panjaitan) mempunyai anak 1 orang yaitu “Raja Situngo Panjaitan”. Salah seorang anak Raja Situngo yaitu “Raja Sijorat Paraliman” (supaya tidak terjadi perdebatan sipersingkat saja tarombonya).

Raja Situngo terkenal kesaktiannya & seorang pengembara, dari cerita Raja Situngo inilah banyak cerita Parpadanan Panjaitan dengan marga lain baik itu karena hubungan darah (Sinambela, Sibuea) maupun karena perjanjian tertentu (Simanullang).

Suatu ketika di pengembaraannya Raja Situngo Panjaitan bertemu dengan seorang perempuan yang sedang berada di Pusara suaminya Raja Sinambela yang baru meninggal. Raja Situngo merasa iba dengan perempuan tsb, singkat cerita Raja Situngo pun membawa pulang perempuan tsb ke kampung perempuan itu (Sinambela) & kemudian mengawininya. Dari hasil perkawinannya lahirlah seorang anak (??), untuk mencegah hal2 yg tidak diinginkan maka disepakatilah bahwa antara Panjaitan & Sinambela tidak boleh ada perkawinan karena mereka adalah saudara 1 ibu lain ayah.

Pada suatu ketika Raja Sisingamangaraja Sinambela dan Raja Panjaitan bersepakat menemui Tulangnya (pamannya) Raja Uti Borbor/ Pasaribu untuk mencari ilmu dan kerajaan. Maka berangkatlah keduanya  (mereka 1 ibu lain ayah)   ke rumah  tulangnya, ttp mereka hanya menemui istri tulangnya (Nantulangnya) di rumah. Merekapun menyampaikan maksud & tujuannya kepada nantulangnya yaitu untuk meminta berkat  dari tulangnya Raja Uti & meminta ilmu.   Sepulangnya mereka nantulangnyapun menyampaikan pesan tsb ke Raja Uti. Lalu Raja Uti pun menguji kedua keponakannya untuk menangkap kuda putihnya yang lepas.  Keduanyapun menggunakan kekuatan dan keahliannya masing-masing mencoba menangkap kuda putih Raja Uti. Ternyata yang berhasil menangkap kuda putih RajaUti adalah Raja Panjaitan (Sijorat Paraliman) dengan menggunakan perangkapnya (Jorat). Setelah itu merekapun melaporkan hasil ujian mereka ke tulangnya Raja Uti,  tetapi mereka tidak menemukan tulangnya di rumah. Mereka hanya menemukan nantulangnya. Ujian demi ujianpun diberikan oleh Raja Uti kepada kedua keponakannya itu tapi tetap saja melalui perantara istrinya (nantulang mereka).

Suatu ketika mereka diundang makan oleh Raja Uti ke rumahnya, tetapi Raja Panjaitan meminta kepada nantulangnya agar nantulangnya menyediakan singkong yang direbus dengan potongan cukup panjang.  Dengan sedikit heran, Nantulangnyapun menyediakan permintaan keponakannya itu. Tiba saatnya makan, istri Raja Uti telah menyediakan semua makanan termasuk singkong permintaan keponakannya Raja Panjaitan, tetapi Raja Uti tidak muncul juga. Lalu merekapun dipersilahkan makan, kemudian Raja Panjaitanpun mengambil singkong yang direbus  tadi.  Karena panjangnya maka Raja Panjaitan pun mendongak ke atas untuk memasukkan ke mulutnya.  Lalu terlihat lah oleh si  Raja Panjaitan tulamngnya si Raja Uti sedang duduk memperhatikan mereka di tingkap-tingkap atas rumah. Berkatalah si Raja Panjaitan “Ternyata Tulang ada di situ, mari kita makan bersama”.  Maka turunlah si Raja Uti makan bersama-sama dengan mereka.  Akhirnya merekapun diberkati oleh tulangnya si Raja Uti setelah melalui beberapa ujian yang diberikannya. Kedua keponakannya inipun diberikan ilmu & kesaktian oleh si Raja Uti. Lalu Si Raja Panjaitan pun di beri gelar Si Raja Sijorat Paraliman, karena telah berhasil memperangkap atau menjerat tulangnya si Raja Uti. Keduanya menjadi raja di wilayahnya masing-masing, meskipun demikian apabila salah 1 dari mereka berada di bukan wilayahnya maka iapun  raja di situ. Misalnya  Si Jorat Paraliman Panjaitan sedang berada di wilayah Sinambela (Sisingamangaraja 1) maka iapun dihormati sebagai raja di situ & sebaliknya jika Sisingamangaraja 1 (Sinambela) sedang berada di wilayah Si Jorat Paraliman maka iapun dihormati sebagai raja di situ. Sisingamangaraja berkuasa di wilayah Timur, sedangkan Si Jorat Paraliman di wilayah Barat.

Demikianlah kisah tentang hubungan persaudaraan Marga Panjaitan & Marga Sinambela yang sampai saat ini masih terjaga dengan baik. Ada juga sebagian orang meremehkan tentang hal ini tapi akibat yang mereka tanggung sangatlah besar apabila dilanggar, karena antara Panjaitan & Sinambela bukanlah hanya sekedar suatu perjanjian tapi memang mempunyai hubungan darah, itu sebabnya Panjaitan selalu menyebut Sinambela Anggi Doli (bukan marpadan), bahkan banyak bukti yang menyatakan apabila terjadi perkawinan antara Panjaitan & Sinambela selalu ada saja permasalah yg di alami keluarga tersebut atau bahasa gampangnya musibah yang diterima oleh mereka.Boleh percaya boleh tidak tapi nyata.

Kebenaran cerita ini tidaklah mutlak, karena kebenaran hanyalah milik Tuhan. Apabila ada hal -hal yang tidak sesuai  mohon dikoreksi atau ada cerita versi lain mohon diinformasikan.

SALAM PERSAUDARAAN PANJAITAN SINAMBELA.     H   O   R  A   S

 

13 Komentar leave one →
  1. 17 September 2011 20:00

    mantap x artikelnya blog pak tua ni…

    jadi tambah pengetahuan aq tentang adat..

    nice info
    :)

  2. ofelpanjaitan permalink
    19 September 2011 03:03

    trims buat artikelnya bptua

  3. 30 September 2011 03:42

    Sattabi appara.! koreksi :
    1. namangido sijungkot panganonnasida, siasat kebijaksanaan asa boi mamereng dompak, mamereng bohi ni RAJA UTI naso boi dompakkonon ni jolma. Hinorhon ni na mangan sijungkot, gabe dompak ginjang pamerengan, pajumpang bohi ma nasida masiberengan dohot RAJA UTI.

    Marsoara ma RAJA UTI mandok :“Raja na Marsahala, angka na bisuk jala na bijaksana, anak ni Raja Toba.”

    2. RAJA SINGAMANGARAJA di wilayah Barat dan RAJA SIJORAT PARALIMAN di wilayah Timur
    a) Dipasahat ma ruhut ni harajaon di Tano Batak tu RAJA SORIMANGARAJA, Singa ni adat, Singa ni uhum, Singa ni harajaon dipasahat tu Raja i laos digoari ma olat ni i RAJA SINGAMANGARAJA.namarharajaon di tano Batak na di Hasundutan.
    b) RAJA SIJORAT PARALIMAN, ai laos jinorat ni sahala dohot hasaktion nasida do sude, umbahen na dapot halongangan na Lima i. Dipasahat ma tu Rajai, Harajaon Batak na di Habinsaran.
    Laos dipatontu nasida ma ruhut ni harajaon, mambahen sistem pemerintahan Raja Maropat di angka inganan harajaon Batak na umbalga.
    Harajaon si 4 (Opat) Bius na di di Harajaon Batak ma daerah kerajaan ni Ompunta RAJA SIJORAT PARALIMAN, ima : Bius Sitorang, Parsambilan, Sigumpar dohot Narumonda na ginoaran Bius Siantar.

    Diangkat ma Raja Maropat, ima :

    Raja Pugani di Bius Sitorang
    Raja Manjungjung di Bius Parsambilan
    Raja Sapalatua di Bius Sigumpar
    Raja Pansundungan di Bius Narumonda (Bius Siantar)

    Horasma di hita marga Panjaitan dohot Sinambela.
    Mauliate

  4. 25 Oktober 2011 15:10

    mantaph pak tua
    jadi semakin mengerti asal usul marga panjaitan…

    selama ini belum ngerti apa2 klo ditanyain sama orang lain..
    jadi bangga sama orang batak..

    kalau ada info berikutnya, tolong di share ya pak tua ke facebook supaya naposo panjaitan yang lain tahu…

    trimakasih pak tua atas infonya..

  5. pandiangan permalink
    5 Januari 2012 14:30

    ai toho di…….
    annon daong
    batak banyak taktik

    ada yng blng sisingamangaraja orang aceh
    skrng satu ibu tp lain bapk dengan sisingamangaraj
    gk jelas
    palsuuuuu……

  6. 12 Januari 2012 11:17

    artikel ni bapa uda mmang mantap do tabba pemahaman q ttng ubungan sinambela dht panjaitan alenmambaen bingung au boasa muse diartikel ni bapa uda on panjaitan,sinambela dht sibuea samudar ale molo simanullang padan ni panjaitan ale molo natua2 niba mndok bapa tua sinambela dht panjaitan marpadan do dang marhaha anggi sngon na didok ni bapa tuai diartikel on…………….

  7. ryan Panjaitan permalink
    4 Februari 2012 04:20

    Horas… di hita sudena, molo na huboto sian natua2 panjaitan dohot sinambela namar padan do, adong do ceritana ima mengenai hoda ni sisingamangaraja nabotari mago, di baenma sayembara ise na boi mandapot hoda i, di lehon sisingamangaraja ma boruna. alai dung dapot ni si jorat hodai, gabe disuru ma muse mangalului hau namartonga-tonga ni langit, jadi dapot ni si jorat do hau i, alai dang dilehon raja sisingamangaraja boru nai, gabe maarpadanma nasida. ido na huboto. jadi molo anggina silitonga, siagian,sianipar do, anggo manulang dll, namangihuton padan sian sinambela do godangan, anggo padanta holan sada do sabutulna ima sinambela.mauliate.

    Sian Pomparan
    Panjaitan Sijorat
    siabal-abal 2 – Sipahutar
    No. 14

    • erwin panjaitan permalink
      6 April 2012 20:34

      Sarupa do versi na tabege puang pak tua. (Panjaitan no 17). Alai masalah hau na martonga tonga langit dang hea hubege.
      Panjaitan dari siabal abal 2 juga neh. Hehehe

  8. sanggam sinambela permalink
    8 Februari 2012 04:14

    trimakasih.. maaf dan mohon izin ya kalo artikelnya saya copy…

  9. 29 Februari 2012 04:23

    trima kasih ma atas artikel ni bapa tua,dang sia-sia au manjaha na pak tua,
    lam gok do pambotoan ku holan manjaha artikel on,,,,,,,,

  10. 23 Maret 2012 17:51

    on dope hea huboto cerita i. sandok sisingamangara do na boi mamereng raja uti

  11. eeqnana permalink
    28 Maret 2012 08:38

    mauliate bapak tua…
    gabe malo si Irvan nami on…
    Ai manjou lae do ibana tu marga Sinambela …
    hapengan panjaitan do si irvan on…
    owkowkwokwowkokw…
    loak ate…..

  12. erwin panjaitan permalink
    6 April 2012 20:27

    Horas… Membaca cerita antara sinambela dan panjaitan, ada versi lain yang saya dengar. Panjaitan dan sinambela memang bersaudara, dan dieratkan lagi dgn parpadanan. Dimana ketika kuda sisingamangaraja lepas, atau tdk dapat ditunggangi, maka sisingamangaraja membuat pengumuman bagi siapa yang dapat menangkap kudanya. Kebetulan oppung raja sijorat yang berhasil menangkap dengan menggunakan 7 padang padang(sejenis tanaman rumputan). Itulah yang membuat sisingamangaraja marpadan dgn panjaitan, sisada anak sisada boru ma nasida. Yang selanjutnya mengenai raja uti, bukan tdk punya tangan atau kaki. Tapi (maaf) pamangan raja uti panjang seperti (maaf) pinahan. Itu dikarenakan ketika marjalang kearah barus dengan kawan kwlawannya, karna haus, raja uti menancapkan tongkatnya ketanah dan keluar air. Raja uti lamgsung minum dengan memasukkan wajahnya keair. Lalu lama kelamaan disadari bahwa pamangannya sudah memanjang. Ini versi yang saya dengar dari orang tua saya. Maaf kalo ada kesalahan. Horas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.493 pengikut lainnya.